![]() |
| 7-themes.com |
Aku : "Asli mana mas?"
Ian : "Oh, aku asli Purw*****o mas"
Aku : "Oh wong jowo to" (Oh orang Jawa)
Ian : "Nggih mas e asli ngendi?" (Ya, mas asli mana?)
Aku : "Asli Sur***** mas"
Tak lama kami terdiam karena tidak ada lagi yang dibahas dalam percakapan, ku lihat matahari sudah hampir terbenam, Ian yang terlihat lelah lalu tertidur namun aku masih merasa segar dan tidak mengantuk sama sekali karena memang sudah menjadi kebiasaanku yang jarang tidur karena pekerjaan. Tak terasa maghrib pun telah lewat aku meminggirkan truk ku dan parkir di pinggir jalan untuk beristirahat sejenak dan tepat didepan truk ada sebuah warung sederhana, aku dan Ian memesan kopi dan mengambil beberapa gorengan. Separuh baya adalah yang menggambarkan bapak penjaga warung tersebut, ku tanya nama bapak itu, namanya ialah Pak Sum, Pak Sum menasehatiku agar tidak berangkat ke Jawa Tengah pada saat malam hari.
Pak Sum : sampeyan ojo mangkat nyamene iki,neng alas kono bahaya" (Mas kamu jangan berangkat jam segini, di hutan sana bahaya)
Aku pun tidak menjawab karena aku masih meminum kopiku tetapi Ian yang menjawabnya perkataan Pak Sum
Ian : "Onok opo tho pak kok ra oleh mangkat?" (ada apa toh pak, kok ga boleh berangkat?)
Pak Sum : "Bahaya le, neng alas kui angker nek kowe mekso mangkat yo ojo lali dungo ben e slamet" (Bahaya nak, di hutan sana angker kalau kamu maksa berangkat ya jangan lupa berdoa biar selamat)
Ian : "Nggih pak"
Tanpa kata pun aku melahap pisang goreng sambil mendengarkan percakapan Pak Sum dan Ian, setelah 30 menit kami istirahat kami pun melanjutkan perjalanan. Kunyalakan mesin dan lampu truk ku yang tidak terlalu terang mengingat ini adalah truk yang lumayan tua. Malam pun tiba gelap menyerang, tak lupa kusiapkan linggis yang berada di bawah jok truk ku untuk perlindungan diri dari begal/rampok, agar malam itu tak terasa sepi aku dan Ian berbincang hingga tak terasa kita sudah berjalan cukup jauh masuk ke jalanan yang menembus hutan.
Naim turun berkelok adalah tipe jalan yang sudah biasa ku lewati di perbatasan Jatim - jateng namun saat ku berbincang aku merasa asing dengan jalanan yang kulewati ini. Jalanan ini terlihat lurus dan tidak ada marka jalan sama sekali dan anehnya tidak ada mobil atau motor yang lewat, aku pun berpikir mungkin sudah malam dan tidak ada yang berani lewat di jalan ini di malam hari, namun aku merasakan kesunyian yang teramat sangat, aku hanya diam dan tidak bertanya kepada Ian yang mungkin juga agak ketakutan. Beberapa menit kemudian aku merasa ada yang janggal dijalan ini, serasa tidak ada akhir di jalan ini seperti berjalan lurus tanpa tujuan. Aku pun mengajak Ian berbicara.
Aku : Yan, ini jalannya lurus tapi kok rasanya jauh banget ya?
Ian : Iya mas aku juga ga tau nih kok perasaan jalannya ini ini aja daritadi
Aku menelan ludah, dan ku lihat jam sudah pukul 00.00 seharusnya jam segini sudah sampai di perkotaan namun jalanan masih terlihat lurus gelap dan tidak ada kendaraan sama sekali kami pun kebingungan. Dan berpikir apakah kami masuk ke dunia lain atau bagaimana?.
Aku terus mengendarai truk tua ku namun anehnya indikator solar truk masih tetap dan tidak berkurang padahal kami merasa sudah berjalan cukup jauh namun jalanan terlihat lurus dan gelap. Tak lama dari kejauhan kami melihat seorang wanita yang tinggi sekitar 2,5 M berbaju putih menjuntai kebawah membelakangi kami, kamipun istighfar dan takbir didalam truk.
Aku : Allahuakbar opo iku?!?!
Ian : Aku ga eroh mas
Aku pun meng gas truk namun truk seperti jalan pelan padahal sudah ku gas dengan penuh, Ian pun hanya bisa ber istighfar di dalam truk. Kami pun telah melewati wanita itu dan kulihat di kaca spion ternyata wanita itu sudah tidak ada. Kulihat arloji ternyata sudah pukul 02.00 dan jalanan masih terlihat lurus dan mestinya kita sudah sampai di tempat tujuan namun jalanan masih terlihat sama dan aku pun mulai ketakutan namun Ian tetap berdoa dan berdoa, aku pun berhenti di pinggir jalan yang aneh itu dan turun dari truk ku lihat ke bawah aspal ternyata berubah menjadi pasir dan kulihat sekeliling ku yang tadinya jalan berubah menjadi pepohonan dan aku pun masuk ke dalam truk, Ian ketakutan dan menutup mata aku pun hanya bisa berdoa dan memohon perlindungan kepada Nya. Lalu aku melihat ada cahaya terang sekali seperti menghampiri ku dengan cepat dan *BRAAAAAAK* kudengar seperti suara benturan dan badanku terasa lemas, aku pun membuka mata ku raba keningku dan ternyata keningku berdarah kulihat trukku terperosok ke jurang yang tidak terlalu dalam dan posisi menabrak pohon besar.
Ku lihat Ian meringis kesakitan karena kepalanya terbentur namun tidak berdarah.
Ian : Mas sadar mas sadar
Hanya itu yang kudengar, ku lihat banyak orang berkerumun dan orang orang mengeluarkan aku dan Ian dari truk aku pun disandarkan di pohon, ku lihat banyak orang mengerumuniku.
Ian : Mas nyapo kok mau tak ajak omong ra nyaut? (Mas kenapa tadi aku ajak bicara kok ga mbales)
Aku : Lho? Kok aneh toh wong kamu tadi ketakutan gitu tak ajak pas tak ajak biara, lha sekarang jam berapa?
Ian : Nggak mas tadi mas diem aja trus tiba tiba truknya mas belokin ke jurang, sekarang jam 00.00 mas"
Aku pun kebingungan dan banyak orang bilang tadi truk ku berjalan oleng trus jatuh ke jurang, aku masih kebingungan apa yang terjadi sebenarnya, aku masih kesakitan karena kepalaku terbentur, kulihat trukku masuk kejurang dan menabrak pohon aku pun berpikir apa mungkin aku tadi masuk ke dunia lain dan suatu makhluk ingin mencelakakan kita berdua.
Ian pun menelpon perusahaan yang memesan trailer kalau kami berdua mengalami kecelakaan namun masih selamat tetapi aku masih bingung apa yang terjadi sebenarnya. Lalu aku pun mengingat kata-kata Pak Sum tadi jangan berangkat malam hari atau kalau terpaksa jangan lupa membaca doa, aku ternyata tidak membaca doa sebelum perjalanan.
